Ini lanjutannya sob! bagi yang belom baca part 1, langsung ke tkp : klik ini buat ke part I
***
Setiap jam istirahat
aku selalu mencoba mengajaknya berbicara, tapi hasilnya nol besar. Ia hanya
melontarkan beberapa kata dari mulutnya lalu pergi begitu saja. Ia benci pada
keramaian, orang lain, dan mungkin dia juga membenciku. Hal baik yang
kuharapkan tak kunjung datang, tapi aku takkan lelah untuk mencoba. Dia
sekarang selalu menolak untuk berbicara dan setiap kali aku mendekatinya, ia
akan pergi sejauh mungkin. Aku tak heran jika orang-orang tidak menyukainya.
Sampai suatu saat aku tak sengaja bertemu dengannya di koridor kelas.
“ Reilna!” Panggilku
dengan harapan kali ini ia mau menerimaku sebagai temannya.
“Menjauh dariku”
jawabnya dengan kata-kata yang selalu ia ucapkan padaku setiap aku ingin
mengajaknya bicara. Ia lantas pergi meninggalkanku. Tanpa pikir panjang, aku
segera mengikutinya sampai ia tak tahan lagi denganku. Ia kemudian berhenti dan
memutar badan.
“Cukup!
Apa mau mu!?” ia berkata dengan suara yang lantang. Baru ini aku menghadapi
seorang gadis pendiam yang sedang tak bisa mengontrol emosinya.
“Aku
hanya ingin jadi temanmu..” jawabku. Kata-kata itu terlontar begitu saja.
“Omong
kosong! Tidak ada orang yang –”
“Aku
gak mau ngeliat kamu sendirian terus, aku gak mau kamu selalu menghindari orang-orang, aku gak mau kamu kesepian!” jawabku dengan
nada agak meninggi. Aku tak tahan lagi dengannya, kuucapkan saja niatku itu.
Seketika wajahnya yang penuh kebencian itu berubah.
Ia lalu menatapku dengan sangat dalam. Pandangan matanya begitu teduh. Garis
senyumnya kian terlihat. Dia nampak begitu bahagia, begitu juga denganku. Aku
tersenyum lega.
***
Tak
kusangka ia akan begitu menerimaku. Hal baik yang aku harapkan itu akhirnya
datang juga, perlahan tapi pasti aku mulai mengetahui tentang dirinya,
kepribadiannya, dan kehidupannya. Berbulan-bulan sudah aku mengenalnya. Ia
lebih suka belajar dibanding jalan-jalan, ia lebih suka menyendiri di
keramaian, ia lebih memilih untuk memendam perasaannya daripada
mengungkapkannya, ia lebih suka menghadapi masalahnya sendiri, menikmati rasa
sakit yang ia rasakan setiap hari. Sampai pada suatu hari ketika aku pulang
bersama dengannya. Aku menanyakan hal yang selama ini tertahan di benakku.
“Reil?”
sapaku dengan lembut.
“Iya,
ada apa, No?” jawabnya sembari melihat ke wajahku.
“Hmmm, kenapa sih
kamu suka menyendiri gitu di
sekolah?” tanyaku dengan penuh rasa penasaran.
“Kamu tau sendirilah,
aku tuh berbeda dengan yang lain, gak kayak cewek-cewek kebanyakan, aku jauh
lebih seneng baca buku daripada ngegosip tentang cowok keren, gak sedikit yang bilang kalo aku tuh cewek culun, belum lagi aku kidal, banyak tingkah anehku yang gak bisa diterima di sini, so aku menutup diri dari pergaulan. Aku
juga gak peduli sama apa yang terjadi
di sini, aku hanya fokus pada diriku saja. Gak
ada yang benar-benar peduli padaku,”
“Iya juga sih, aku juga awalnya mikir kaya gitu, tapi kenapa kamu gak nyoba untuk punya teman waktu itu?”
“Enggak, No. Aku gak mau
sakit lagi.”
“Hah? Sakit? Maksud
kamu?”
“Iya, sebenarnya
sebelum ini aku pernah punya teman di sekolah menengah. Kami sangat akrab, dia
satu-satunya teman yang aku punya. Bisa dibilang dia itu teman terbaik yang
pernah kutemui.”
“Lalu, dimana dia
ketika kamu membutuhkannya? Bukannya
teman yang baik itu selalu ada disaat kamu sedang susah?”
“Entahlah, dia
tiba-tiba menghilang dari kehidupanku. Masih ku ingat ketika aku sedang
dipermalukan dan ditindas di belakang sekolah oleh siswa-siswi lain karena
keanehanku, dan aku sekilas melihatnya diantara mereka, lalu ia pergi begitu
saja. Aku tak butuh teman jika hanya akan berkhianat. Pada akhirnya, aku
memilih untuk tidak berteman lagi dengan siapapun.” kata Reilna sembari
tersenyum padaku, wajahnya yang manis itu seakan menahan sakit yang sangat
dalam.
Aku mengerti sekarang
kenapa dia menjadi seperti itu. Ada hal lain dari dirinya yang membuat dia
sukar untuk diterima orang banyak dan ternyata seseorang yang dia anggap
sebagai teman baiknya itu, malah berkhianat padanya. Sebenarnya hal itu tak
perlu terjadi pada seorang gadis manis yang malang ini. Semakin besar rasa
ibaku padanya, ingin sekali aku membuatnya tersenyum selamanya dengan tulus
tanpa rasa sakit di batinnya, tapi bagaimana jika aku hanya dianggap sebagai seorang ‘teman’ yang akan berkhianat
padanya? Aku akan membuktikan bahwa aku datang bukan untuk menjadi ‘teman’
seperti yang terdoktrin di otaknya.
“Aku ngerti
sekarang, Reil. Tapi selama aku ada di sisimu, tak kan kubiarkan sesuatu yang
buruk terjadi padamu” ucapku sambil tersenyum padanya. Dia terdiam tanpa kata.
Suasana sunyi sejenak, kami berdua seakan berada di gurun pasir yang luas dan
sepi. Mungkin ia tak menyangka aku akan mengatakan hal itu, atau mungkin aku
adalah orang pertama yang berkata seperti itu padanya.
***
Sejak saat itu, dia selalu ada didekatku. Aku tak mengira bahwa
kami akan jadi seakrab dan sedekat ini. Kami jadi sering belajar dan
mengerjakan tugas bersama, kebetulan dia tergolong pintar dan tak jarang aku
memintanya untuk mengajariku. Aku memang agak malas memperhatikan pelajaran
yang diterangkan oleh guru, gampang sekali menyerah ketika salah menjawab,
hampir tidak pernah piket, sangat dikenal satpam dan guru BP karena sering
terlambat ke sekolah, tak pernah absen untuk bolos setiap minggunya, dan masih
banyak kebiasaan burukku. Keadaan berubah semenjak aku mengenal Reilna, aku
mulai bisa meninggalkan kebiasaan burukku, walaupun kadang kala kebiasaan itu
kembali ku lakukan, tapi yang pasti Reilna membawa banyak perubahan dihidupku. Tak
kusangka, Reilna sekarang sangat berbeda dengan Reilna yang pertama kali aku
temui dulu. Dia sekarang menjadi lebih ceria, jarang lagi kutemukan ia memasang
raut wajah khasnya yang membuat tak ada seorangpun yang mau melihatnya, sekarang
ia jadi sering mencurahkan masalahnya padaku, ia mulai peduli dengan
orang-orang sekitar, dan sekarang ia semakin membuatku tidak ingin jauh
darinya. Rasa ini lebih dari suka, mungkin aku mencintainya.
***
Tak terasa liburan semester
sudah seminggu berlalu. Sejak beberapa hari ini aku sering membuatnya khawatir,
aku tidak pernah lagi menceritakan masalahku padanya. Deino yang dulu sering
bersenda gurau dengan Reilna kini sudah tak ada. Aku lebih sering diam melamun
memikirkan sesuatu, sementara Reilna berusaha menghiburku dengan tingkah
polosnya. Aku hanya bicara seadanya ketika Reilna berbicara panjang lebar. Dia
sempat berkata bahwa aku harus menceritakan masalahku padanya, namun aku
menolaknya dengan berat hati. Aku berpikir sudah cukup kuat bagiku untuk menghadapi
masalahku sendiri tanpa bantuannya. Tapi tak bisa dipungkiri, kelemahanku
adalah aku tak bisa menyembunyikan masalahku pada orang yang aku percaya, dan
kelebihan Reilna adalah ia tak pernah bosan menjadi setitik cahaya di kegelapan
yang mencekam.
“Deino?” panggil Reilna
dengan suaranya yang lembut. Aku hanya diam meratapi sesuatu dengan wajah
keputusasaan.
“Deino!” ia memanggilku
dan memukul punggungku dengan keras.
“Ahh, Sakit tau!”
pikiranku yang tadinya entah pergi kemana tiba-tiba kembali ke tubuhku.
“Rasain, makanya jangan sok
kuat menghadapi masalah sendiri” kata Reilna. Nampaknya ia marah denganku.
“Sorry, Reil. Mungkin aku gak
akan cerita tentang masalah ini”
“Apa-apaan sih, No. Kamu dulu pernah bilang sama aku untuk jangan
menghadapi masalah sendiri, untuk jangan menyembunyikan masalahku dari kamu.
Sekarang kamu sendiri yang kaya gitu. Please,
No. Aku cuma gak mau kamu jadi murung terus. Aku rindu kamu yang dulu, kamu yang
selalu bikin aku tersenyum” sahut
Reilna dengan penuh pengharapan. Suasana berubah seketika. Dulu aku memang
pernah berkata seperti itu ketika Reilna hanya memendam perasaannya sedangkan
ia menghadapi sebuah masalah amat sulit untuk ia hadapi sendiri.
“Baiklah, aku akan
cerita...” jawabku dengan berat hati.
“Kamu tau Jobby, Reil?”
“Teman baikmu itu,
‘kan? Ada apa dengan Jobby?”
“Iya, tapi dia bukan
sekedar teman baikku. Aku kenal dengannya sejak dari sekolah dasar, dia selalu
ada ketika aku suka walaupun duka. Dia seorang sahabat bagiku. Kamu tau? Dialah
orang yang berjasa atas keakraban kita ini. Dia mendukung segala sesuatu yang
baik yang ingin kulakukan... dan keinginanku waktu itu adalah menjadi temanmu.
Aku jamin sekarang dia akan senang
sekali kalau tau kita udah temenan.”
“Sekarang dimana Jobby?
Dia gak apa-apa ‘kan?”
“Dia gak apa-apa. Dia udah di Surga sekarang”
“Hah!? Maksud kamu, No?
Dia udah–”
“Jobby udah meninggal saat dia mudik ke Solo beberapa hari yang lalu”.
Aku tak kuasa menahan kesedihanku, aku akhirnya meneteskan air mataku.
“Aku turut berduka, No”
kata Reilna. Dia lalu menggenggam telapak tanganku dengan erat. Dia nampak
turut merasakan betapa dalam rasa sakit ini.
Reilna mengusir keputusasaanku saat itu juga, dia
berjanji akan membuatku tersenyum kembali dan dia telah membuktikannya.
Dia benar-benar bisa
mengubah rasa kehilangan menjadi keikhlasan. Dia
mampu membuatku merasa hidup kembali dalam ketulusan. Dia seakan menyentuh
bagian terdalam dari jiwaku dengan perasaannya.
***
Beberapa hari setelah
itu, aku mengajak Reilna untuk ke sekolah walaupun masih libur. Perasaan ini.
Ya, perasaan ini tak bisa aku tahan lagi. Aku harus menyampaikan hal ini
padanya.
“Hi, Reil!” panggilku.
Reilna berada di seberang jalan di depan sekolah. Ia benar-benar cantik hari
ini.
“Hi, No!” sahutnya.
Lalu dia segera menghampiriku.
“Kamu kok hari ini cantik banget, Reil” pujiku sembari tertawa kecil padanya.
“Ah, dasar gombal! Oh, iya. Kenapa kamu ngajak aku kesini?”. Raut mukanya
sedikit jengkel.
“Hehehe, aku mau...
Hmmm, maksudku ayo kita ke taman sekolah!” . Aku segera menarik tangannya.
Sesampainya di taman
sekolah, aku menyuruhnya untuk duduk di bangku taman.
“Reil, kamu ingat
tempat ini?”
“Ingatlah, ini ‘kan
taman sekolah”
“Ingat gak apa yang pernah terjadi di sini?”
“Hmmm... Oh, aku ingat.
Waktu itu kamu ngejar aku sampe sini dan aku gak tahan terus akhirnya marah sama kamu.”
“Tau gak? Sebelumnya aku udah nyerah buat jadi teman kamu, tapi ada sesuatu di dada ini yang
bikin aku gak bisa nyerah begitu aja”. Aku tersenyum padanya
“Apa itu, No?” tanya
Reilna dengan wajah penasaran sambil memandangku
“Rasa suka. Pada saat
itu, aku menyukaimu, Reilna”. Aku memandangnya balik.
“Kamu juga menjadi
orang pertama yang bikin aku
tersenyum waktu itu”
“Hah? Serius, Reil?”
“Iya, No, dan itu jadi
awal pertemanan kita”
“Aku gak nyangka
akhirnya kita jadi deket kaya gini”
“Kita saling cerita
masalah, saling berbagi senyuman, saling mempelajari kehidupan satu sama lain.
Kita jadi saling membutuhkan.”
“Makasih banyak ya,
Reil. Aku sekarang jadi gak nakal
seperti dulu. Aku berusaha gak
terlambat, aku udah rajin belajar, gak bosan untuk mencoba jawab, aku udah anti sama bolos-bolosan, dan aku udah
gak phobia sama matematika. Kamu buat
hidup aku jadi jauh lebih baik.
“Aku seharusnya yang ngucapin makasih sama kamu. Kamu itu berhasil mengubah pandangan aku tentang
teman. Sekarang aku lebih peduli ke orang sekitar aku, aku jadi bisa nikmatin
indahnya masa remaja ini. Kamu buat hidup aku jadi lebih berarti.”
Suasana hening sejenak,
tiupan angin menerpa uraian rambut Reilna yang indah layaknya benang-benang
emas yang berkilauan. “Ya Tuhan, indah sekali” Batinku.
“Reilna?” kataku sambil
menggenggam tangannya yang halus dan melihat ke arah wajahnya manis.
“Iya?”. jawab Reilna
dengan suara lembutnya.
“Aku... mencintaimu”
kata-kata itu akhirnya terucap setelah sekian lama tertahan di benakku.
Dia memandangku dengan
tatapan mata yang begitu teduh selama beberapa saat. Jantungku berdebar-debar
dan pikiranku sungguh tak karuan.
“Hah?”. Wajah polosnya
menunjukkan ia agak terkejut. Pupil matanya membesar.
“Aku gak tau mau bilang apa, tapi... yang
pasti kamu adalah orang pertama yang membuat aku jatuh cinta” lanjutnya sambil
tersenyum tulus tanpa satupun rasa
sakit yang tersisa. Aku lega. Aku berhasil menorehkan senyuman tipis di
bibirnya. Aku berjanji akan mempertahankan senyuman itu selamanya.
***
Liburan semester sudah
usai, ini berarti aku akan memasuki babak baru di kehidupan sekolahku. Kelas
XII. Ini akan menjadi masa-masa yang sulit, karena pada akhir tahun pelajaran
kelak menjadi penentuan berhasil atau tidaknya aku menuntut ilmu di sekolah ini,
tapi tahun ini dan tahun-tahun berikutnya akan berlangsung begitu indah, bukan
karena aku yakin bahwa aku akan lulus, mendapat nilai tinggi, dan melanjutkan
ke perguruan tinggi favorit. Tahun ini dan tahun-tahun berikutnya akan
berlangsung begitu indah, karena ada seseorang disisiku yang membuat segala
rintangan dan cobaan itu menjadi mudah. Reilna, seorang gadis yang terurai
rambutnya.
-TAMAT-
Nah itu dia cerpen paling keren yang pernah gue buat, by the way ini awalnya buat tugas sih, tapi gue pikir daripada cerpen ini cuma buat nilai di raport sekolah mending di post ke blog, Lumayan ada bahan buat dipost :3
Gimana menurut kalian? Apa cerpen ini bikin baper? Apa bikin kalian meneteskan ingus air mata? atau biasa aja? atau malah cerpen ini kacang? kentang? Gak bagus sama sekali? Kasih tanggapan kalian di comment section di bawah ya! Gue gak akan marah kok kalian mau kasih kritik, paling ntar gue cari orangnya. Hahaha nggaklah, yang penting kritiknya membangun :)
Last but not least, thanks a lot for the one who inspired me to write this short story.
Gue Danar Anugrah undur diri, Salam Beatboxers!
Wassalamualaikum!