Saturday, March 26, 2016

Cerpen : Seorang Gadis yang Terurai Rambutnya (Part II-Tamat)

Ini lanjutannya sob! bagi yang belom baca part 1, langsung ke tkp : klik ini buat ke part I


***
Setiap jam istirahat aku selalu mencoba mengajaknya berbicara, tapi hasilnya nol besar. Ia hanya melontarkan beberapa kata dari mulutnya lalu pergi begitu saja. Ia benci pada keramaian, orang lain, dan mungkin dia juga membenciku. Hal baik yang kuharapkan tak kunjung datang, tapi aku takkan lelah untuk mencoba. Dia sekarang selalu menolak untuk berbicara dan setiap kali aku mendekatinya, ia akan pergi sejauh mungkin. Aku tak heran jika orang-orang tidak menyukainya. Sampai suatu saat aku tak sengaja bertemu dengannya di koridor kelas.
“ Reilna!” Panggilku dengan harapan kali ini ia mau menerimaku sebagai temannya.
“Menjauh dariku” jawabnya dengan kata-kata yang selalu ia ucapkan padaku setiap aku ingin mengajaknya bicara. Ia lantas pergi meninggalkanku. Tanpa pikir panjang, aku segera mengikutinya sampai ia tak tahan lagi denganku. Ia kemudian berhenti dan memutar badan.
“Cukup! Apa mau mu!?” ia berkata dengan suara yang lantang. Baru ini aku menghadapi seorang gadis pendiam yang sedang tak bisa mengontrol emosinya.
“Aku hanya ingin jadi temanmu..” jawabku. Kata-kata itu terlontar begitu saja.
“Omong kosong! Tidak ada orang yang
“Aku gak mau ngeliat kamu sendirian terus, aku gak mau kamu selalu menghindari orang-orang, aku gak mau kamu kesepian!” jawabku dengan nada agak meninggi. Aku tak tahan lagi dengannya, kuucapkan saja niatku itu.
Seketika wajahnya yang penuh kebencian itu berubah. Ia lalu menatapku dengan sangat dalam. Pandangan matanya begitu teduh. Garis senyumnya kian terlihat. Dia nampak begitu bahagia, begitu juga denganku. Aku tersenyum lega.
***
Tak kusangka ia akan begitu menerimaku. Hal baik yang aku harapkan itu akhirnya datang juga, perlahan tapi pasti aku mulai mengetahui tentang dirinya, kepribadiannya, dan kehidupannya. Berbulan-bulan sudah aku mengenalnya. Ia lebih suka belajar dibanding jalan-jalan, ia lebih suka menyendiri di keramaian, ia lebih memilih untuk memendam perasaannya daripada mengungkapkannya, ia lebih suka menghadapi masalahnya sendiri, menikmati rasa sakit yang ia rasakan setiap hari. Sampai pada suatu hari ketika aku pulang bersama dengannya. Aku menanyakan hal yang selama ini tertahan di benakku.
“Reil?” sapaku dengan lembut.
“Iya, ada apa, No?” jawabnya sembari melihat ke wajahku.
“Hmmm, kenapa sih kamu suka menyendiri gitu di sekolah?” tanyaku dengan penuh rasa penasaran.
“Kamu tau sendirilah, aku tuh berbeda dengan yang lain, gak kayak cewek-cewek kebanyakan, aku jauh lebih seneng baca buku daripada ngegosip tentang cowok keren, gak sedikit yang bilang kalo aku tuh cewek culun, belum lagi aku kidal, banyak tingkah anehku yang gak bisa diterima di sini, so aku menutup diri dari pergaulan. Aku juga gak peduli sama apa yang terjadi di sini, aku hanya fokus pada diriku saja. Gak ada yang benar-benar peduli padaku,”
“Iya juga sih, aku juga awalnya mikir kaya gitu, tapi kenapa kamu gak nyoba untuk punya teman waktu itu?”
Enggak, No. Aku gak mau sakit lagi.”
“Hah? Sakit? Maksud kamu?”
“Iya, sebenarnya sebelum ini aku pernah punya teman di sekolah menengah. Kami sangat akrab, dia satu-satunya teman yang aku punya. Bisa dibilang dia itu teman terbaik yang pernah kutemui.”
“Lalu, dimana dia ketika kamu membutuhkannya? Bukannya teman yang baik itu selalu ada disaat kamu sedang susah?”
“Entahlah, dia tiba-tiba menghilang dari kehidupanku. Masih ku ingat ketika aku sedang dipermalukan dan ditindas di belakang sekolah oleh siswa-siswi lain karena keanehanku, dan aku sekilas melihatnya diantara mereka, lalu ia pergi begitu saja. Aku tak butuh teman jika hanya akan berkhianat. Pada akhirnya, aku memilih untuk tidak berteman lagi dengan siapapun.” kata Reilna sembari tersenyum padaku, wajahnya yang manis itu seakan menahan sakit yang sangat dalam.
Aku mengerti sekarang kenapa dia menjadi seperti itu. Ada hal lain dari dirinya yang membuat dia sukar untuk diterima orang banyak dan ternyata seseorang yang dia anggap sebagai teman baiknya itu, malah berkhianat padanya. Sebenarnya hal itu tak perlu terjadi pada seorang gadis manis yang malang ini. Semakin besar rasa ibaku padanya, ingin sekali aku membuatnya tersenyum selamanya dengan tulus tanpa rasa sakit di batinnya, tapi bagaimana jika aku hanya dianggap  sebagai seorang ‘teman’ yang akan berkhianat padanya? Aku akan membuktikan bahwa aku datang bukan untuk menjadi ‘teman’ seperti yang terdoktrin di otaknya.
“Aku ngerti sekarang, Reil. Tapi selama aku ada di sisimu, tak kan kubiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu” ucapku sambil tersenyum padanya. Dia terdiam tanpa kata. Suasana sunyi sejenak, kami berdua seakan berada di gurun pasir yang luas dan sepi. Mungkin ia tak menyangka aku akan mengatakan hal itu, atau mungkin aku adalah orang pertama yang berkata seperti itu padanya.
***
    Sejak saat itu, dia selalu ada didekatku. Aku tak mengira bahwa kami akan jadi seakrab dan sedekat ini. Kami jadi sering belajar dan mengerjakan tugas bersama, kebetulan dia tergolong pintar dan tak jarang aku memintanya untuk mengajariku. Aku memang agak malas memperhatikan pelajaran yang diterangkan oleh guru, gampang sekali menyerah ketika salah menjawab, hampir tidak pernah piket, sangat dikenal satpam dan guru BP karena sering terlambat ke sekolah, tak pernah absen untuk bolos setiap minggunya, dan masih banyak kebiasaan burukku. Keadaan berubah semenjak aku mengenal Reilna, aku mulai bisa meninggalkan kebiasaan burukku, walaupun kadang kala kebiasaan itu kembali ku lakukan, tapi yang pasti Reilna membawa banyak perubahan dihidupku. Tak kusangka, Reilna sekarang sangat berbeda dengan Reilna yang pertama kali aku temui dulu. Dia sekarang menjadi lebih ceria, jarang lagi kutemukan ia memasang raut wajah khasnya yang membuat tak ada seorangpun yang mau melihatnya, sekarang ia jadi sering mencurahkan masalahnya padaku, ia mulai peduli dengan orang-orang sekitar, dan sekarang ia semakin membuatku tidak ingin jauh darinya. Rasa ini lebih dari suka, mungkin aku mencintainya.
***
Tak terasa liburan semester sudah seminggu berlalu. Sejak beberapa hari ini aku sering membuatnya khawatir, aku tidak pernah lagi menceritakan masalahku padanya. Deino yang dulu sering bersenda gurau dengan Reilna kini sudah tak ada. Aku lebih sering diam melamun memikirkan sesuatu, sementara Reilna berusaha menghiburku dengan tingkah polosnya. Aku hanya bicara seadanya ketika Reilna berbicara panjang lebar. Dia sempat berkata bahwa aku harus menceritakan masalahku padanya, namun aku menolaknya dengan berat hati. Aku berpikir sudah cukup kuat bagiku untuk menghadapi masalahku sendiri tanpa bantuannya. Tapi tak bisa dipungkiri, kelemahanku adalah aku tak bisa menyembunyikan masalahku pada orang yang aku percaya, dan kelebihan Reilna adalah ia tak pernah bosan menjadi setitik cahaya di kegelapan yang mencekam.
“Deino?” panggil Reilna dengan suaranya yang lembut. Aku hanya diam meratapi sesuatu dengan wajah keputusasaan.
“Deino!” ia memanggilku dan memukul punggungku dengan keras.
“Ahh, Sakit tau!” pikiranku yang tadinya entah pergi kemana tiba-tiba kembali ke tubuhku.
Rasain, makanya jangan sok kuat menghadapi masalah sendiri” kata Reilna. Nampaknya ia marah denganku.
Sorry, Reil. Mungkin aku gak akan cerita tentang masalah ini”
Apa-apaan sih, No. Kamu dulu pernah bilang sama aku untuk jangan menghadapi masalah sendiri, untuk jangan menyembunyikan masalahku dari kamu. Sekarang kamu sendiri yang kaya gitu. Please, No. Aku cuma gak mau kamu jadi murung terus. Aku rindu kamu yang dulu, kamu yang selalu bikin aku tersenyum” sahut Reilna dengan penuh pengharapan. Suasana berubah seketika. Dulu aku memang pernah berkata seperti itu ketika Reilna hanya memendam perasaannya sedangkan ia menghadapi sebuah masalah amat sulit untuk ia hadapi sendiri.
“Baiklah, aku akan cerita...” jawabku dengan berat hati.
“Kamu tau Jobby, Reil?”
“Teman baikmu itu, ‘kan? Ada apa dengan Jobby?”
“Iya, tapi dia bukan sekedar teman baikku. Aku kenal dengannya sejak dari sekolah dasar, dia selalu ada ketika aku suka walaupun duka. Dia seorang sahabat bagiku. Kamu tau? Dialah orang yang berjasa atas keakraban kita ini. Dia mendukung segala sesuatu yang baik yang ingin kulakukan... dan keinginanku waktu itu adalah menjadi temanmu. Aku jamin sekarang dia akan senang sekali kalau tau kita udah temenan.”
“Sekarang dimana Jobby? Dia gak apa-apa ‘kan?”
“Dia gak apa-apa. Dia udah di Surga sekarang”
“Hah!? Maksud kamu, No? Dia udah
“Jobby udah meninggal saat dia mudik ke Solo beberapa hari yang lalu”. Aku tak kuasa menahan kesedihanku, aku akhirnya meneteskan air mataku.
“Aku turut berduka, No” kata Reilna. Dia lalu menggenggam telapak tanganku dengan erat. Dia nampak turut merasakan betapa dalam rasa sakit ini.
Reilna mengusir keputusasaanku saat itu juga, dia berjanji akan membuatku tersenyum kembali dan dia telah membuktikannya.
Dia benar-benar bisa mengubah rasa kehilangan menjadi keikhlasan. Dia mampu membuatku merasa hidup kembali dalam ketulusan. Dia seakan menyentuh bagian terdalam dari jiwaku dengan perasaannya.
***
Beberapa hari setelah itu, aku mengajak Reilna untuk ke sekolah walaupun masih libur. Perasaan ini. Ya, perasaan ini tak bisa aku tahan lagi. Aku harus menyampaikan hal ini padanya.
“Hi, Reil!” panggilku. Reilna berada di seberang jalan di depan sekolah. Ia benar-benar cantik hari ini.
“Hi, No!” sahutnya. Lalu dia segera menghampiriku.
“Kamu kok hari ini cantik banget, Reil” pujiku sembari tertawa kecil padanya.
“Ah, dasar gombal! Oh, iya. Kenapa kamu ngajak aku kesini?”. Raut mukanya sedikit jengkel.
“Hehehe, aku mau... Hmmm, maksudku ayo kita ke taman sekolah!” . Aku segera menarik tangannya.
Sesampainya di taman sekolah, aku menyuruhnya untuk duduk di bangku taman.
“Reil, kamu ingat tempat ini?”
“Ingatlah, ini ‘kan taman sekolah”
“Ingat gak apa yang pernah terjadi di sini?”
“Hmmm... Oh, aku ingat. Waktu itu kamu ngejar aku sampe sini dan aku gak tahan terus akhirnya marah sama kamu.”
“Tau gak? Sebelumnya aku udah nyerah buat jadi teman kamu, tapi ada sesuatu di dada ini yang bikin aku gak bisa nyerah begitu aja”. Aku tersenyum padanya
“Apa itu, No?” tanya Reilna dengan wajah penasaran sambil memandangku
“Rasa suka. Pada saat itu, aku menyukaimu, Reilna”. Aku memandangnya balik.
“Kamu juga menjadi orang pertama yang bikin aku tersenyum waktu itu”
“Hah? Serius, Reil?”
“Iya, No, dan itu jadi awal pertemanan kita”
“Aku gak nyangka akhirnya kita jadi deket kaya gini”
“Kita saling cerita masalah, saling berbagi senyuman, saling mempelajari kehidupan satu sama lain. Kita jadi saling membutuhkan.”
“Makasih banyak ya, Reil. Aku sekarang jadi gak nakal seperti dulu. Aku berusaha gak terlambat, aku udah rajin belajar, gak bosan untuk mencoba jawab, aku udah anti sama bolos-bolosan, dan aku udah gak phobia sama matematika. Kamu buat hidup aku jadi jauh lebih baik.
“Aku seharusnya yang ngucapin makasih sama kamu. Kamu itu berhasil mengubah pandangan aku tentang teman. Sekarang aku lebih peduli ke orang sekitar aku, aku jadi bisa nikmatin indahnya masa remaja ini. Kamu buat hidup aku jadi lebih berarti.”
Suasana hening sejenak, tiupan angin menerpa uraian rambut Reilna yang indah layaknya benang-benang emas yang berkilauan. “Ya Tuhan, indah sekali” Batinku.
“Reilna?” kataku sambil menggenggam tangannya yang halus dan melihat ke arah wajahnya manis.
“Iya?”. jawab Reilna dengan suara lembutnya.
“Aku... mencintaimu” kata-kata itu akhirnya terucap setelah sekian lama tertahan di benakku.
Dia memandangku dengan tatapan mata yang begitu teduh selama beberapa saat. Jantungku berdebar-debar dan pikiranku sungguh tak karuan.
“Hah?”. Wajah polosnya menunjukkan ia agak terkejut. Pupil matanya membesar.
“Aku gak tau mau bilang apa, tapi... yang pasti kamu adalah orang pertama yang membuat aku jatuh cinta” lanjutnya sambil tersenyum tulus tanpa satupun rasa sakit yang tersisa. Aku lega. Aku berhasil menorehkan senyuman tipis di bibirnya. Aku berjanji akan mempertahankan senyuman itu selamanya.
***
Liburan semester sudah usai, ini berarti aku akan memasuki babak baru di kehidupan sekolahku. Kelas XII. Ini akan menjadi masa-masa yang sulit, karena pada akhir tahun pelajaran kelak menjadi penentuan berhasil atau tidaknya aku menuntut ilmu di sekolah ini, tapi tahun ini dan tahun-tahun berikutnya akan berlangsung begitu indah, bukan karena aku yakin bahwa aku akan lulus, mendapat nilai tinggi, dan melanjutkan ke perguruan tinggi favorit. Tahun ini dan tahun-tahun berikutnya akan berlangsung begitu indah, karena ada seseorang disisiku yang membuat segala rintangan dan cobaan itu menjadi mudah. Reilna, seorang gadis yang terurai rambutnya.

-TAMAT- 

Nah itu dia cerpen paling keren yang pernah gue buat, by the way ini awalnya buat tugas sih, tapi gue pikir daripada cerpen ini cuma buat nilai di raport sekolah mending di post ke blog, Lumayan ada bahan buat dipost :3
Gimana menurut kalian? Apa cerpen ini bikin baper? Apa bikin kalian meneteskan ingus air mata? atau biasa aja? atau malah cerpen ini kacang? kentang? Gak bagus sama sekali? Kasih tanggapan kalian di comment section di bawah ya! Gue gak akan marah kok kalian mau kasih kritik, paling ntar gue cari orangnya. Hahaha nggaklah, yang penting kritiknya membangun :)
Last but not least, thanks a lot for the one who inspired me to write this short story.

Gue Danar Anugrah undur diri, Salam Beatboxers!
Wassalamualaikum! 

Cerpen : Seorang Gadis yang Terurai Rambutnya (Part I)


Assalamualaikum! Hell-o people! Saudara sebangsa dan setanah air yang gue banggakan! *asik*
Seperti yang udah gue bilang di post sebelumnya, bahwa gue akan nge-post cerpen gue, bisa dibilang ini salah satu cerpen terbaik yang pernah gue tulis, dan ini juga jadi cerpen satu-satunya yang pernah gue bikin. HAHAHA. Jangan lupa siapin tissue ya buat jaga-jaga :(
Okay fellas, just check this out! 

Seorang Gadis yang Terurai Rambutnya


Bel 5 kali berdering pertanda pelajaran hari Sabtu di sekolah sudah usai, semua siswa kelas XI MIA 4 menarik nafas lega, pelajaran Pak Yatno memang membutuhkan konsentrasi yang tinggi, satu kata terlewat saja bisa dipastikan tidak akan lulus ulangan harian, yang lebih sadis, tidak ada kata remedial di kamus beliau, “Tidak ada remedial, jika kalian memang niat untuk lulus, maka berjuanglah habis-habisan pada kesempatan pertama kalian!”. Kata-kata yang beliau ucapkan di akhir pelajaran tadi sangat membekas di pikiranku, seakan-akan memaksaku untuk segera belajar tanpa henti hingga otakku panas, kemudian berasap, dan meledak. Niat untuk belajar dengan giat kadang muncul, tapi niat jika tidak dilakukan ya hanya niat, tubuh mudaku kadang terlalu lemah untuk melaksanakannya.

Teman-teman lain sudah pulang, tinggal tersisa 3 orang, Aku, Joby, dan seorang gadis yang terurai rambutnya. “Job, cepetan piketnya, aku udah lapar nih!” kataku sambil berjalan mondar-mandir tak karuan. Sekolahku memang mewajibkan siswanya yang piket besok untuk piket pada hari itu juga setelah pelajaran usai. “Santai, bro! Kamu tega biarin cewe piket sendirian?” sahut Joby. Seketika pikiranku tertuju ke gadis pendiam yang bahkan sebelumnya tak kusadari kehadirannya di kelasku. Ku lihat dirinya sedang membersihkan lantai kelas yang kotor dengan sapu. Jemari lentiknya menggenggam gagang sapu itu dengan pasti, pertanda ia anak yang rajin.

***

Jam, menit, dan detik berlalu, sabtu sore ini terasa hambar, tak ada yang spesial. Ayah Ibuku sedang menghadiri acara bulanan di kantor tempat Ayahku bekerja. Adikku sedang sibuk menggambar karakter favoritnya di serial kartun yang tak pernah absen ia tonton. Sedang aku terbaring lesu, badanku terasa lumpuh, namun pikiranku tak pernah berhenti berjalan menjelajahi sederet peristiwa yang terjadi di sekolah tadi, mulai dari aku harus mendapat surat panggilan orangtua karena terlambat ke sekolah, celana olahragaku yang robek secara misterius, pelajaran Pak Yatno yang berhasil membuat otakku mencapai titik didihnya, hingga uraian rambut gadis yang indah itu. Iya, gadis itu. Gadis yang menjajah pikiranku saat ini. Ku tahu hanya namanya, Reilna. Aku bahkan tak mengetahui nama lengkapnya. Reilna Adriana, Reilna Gevania, Reilna Putri, Reilna Garcia, Reilna Rynia, Reilna blablabla, ah sudahlah. Hal ini justru membuat rasa penasaranku meluap. Rasanya aku pernah bertemu dengan Reilna sebelumnya, tapi entah mengapa saat di sekolah tadi ia begitu berbeda. Tumbuh secercah penyeselan kecil di hati kecilku, "Kenapa tadi aku tidak menyapa Reilna?". Jikalau saja tadi aku menyapanya, mungkin sekarang aku sedang menikmati sabtu sore ini dengannya di restoran ala Prancis di tepi pantai yang indah sambil mendengarkan alunan merdu musik klasik yang romantis. Oke, sepertinya aku berkhayal terlalu jauh.


 “Ting-tong!” ponselku berbunyi. “Pasti SMS dari Jobby!”. Dia mengajakku untuk hadir di markas secepatnya.



Aku segera bersiap untuk pergi ke markas. Aku mengendarai sepeda legendarisku yang pernah berjuang bersamaku ketika di sekolah menengah pertama dulu. Sesampainya di rumah Jobby, aku disambutnya dengan kata-kata yang biasa dia ucapkan padaku.

“Lama amat sih!” ucap Jobby

sorry, men! Tadi ada orang lagi hajatan, kursinya makan jalan jadinya macet deh!”  jawabku dengan lancar.

“Ah, alesan! Ya udah cepet masuk, aku pengen ngasih tau hal penting”  ujarnya sambil mendorongku ke dalam rumahnya.

Aku pun memasuki rumah Jobby dan kami segera ke markas. Tempat dimana Jobby mengistirahatkan tubuh jenakanya, tempat dimana aku melarikan diri ketika orangtuaku sedang lupa bahwa aku ini adalah anak mereka, tempat dimana kami saling menceritakan masalah dan mencari jalan keluarnya bersama-sama.

“Deino, sudah saatnya aku ngasih tau kamu hal penting yang udah aku pikirin  sejak kamu SMS aku tadi” kata Jobby dengan muka penuh semangat.

“Apa?” tanyaku dengan datar.

“Ini bro, ... tapi…” jawabnya dengan muka setengah semangat.

“Tapi apa?” tanyaku dengan lebih datar.

“Aduh, aku lupa” jawabnya dengan muka yang kehilangan semangat.

“Kodok! Pake lupa lagi” ujarku sambil menghantamnya dengan bantal. Seketika wajahnya semangat kembali, ia teringat kembali dengan hal penting yang akan dia beri tahu, matanya berkaca-kaca, seperti baru saja bertemu kembali dengan pacarnya yang sudah 3 tahun tidak bertemu. Padahal ia tidak memiliki pacar dan tak pernah pacaran.

“Job, ada yang jauh lebih penting daripada yang kamu pikirkan tadi!” tiba tiba aku mengganti topik pembicaraan.

 “Reilna…” kataku dengan wajah serius.

“Oh, cewek pendiam itu? kamu naksir ya?”

C’mon bro, enggaklah!” jawabku dengan yakin.

“Kenapa Reilna? Kata orang-orang dia tuh cewek yang aneh, everyone knows that she’s a loner, she’s also a freak  introvert. Jadi kamu yakin, no ?”

Aku ceritakan apa saja yang terjadi padaku setelah aku menyadari kehadiran Reilna. Ku utarakan keinginanku untuk lebih mengetahui tentang Reilna. Aku tak peduli dengan opini orang yang buruk tentangnya. Memang, aku hanya sekedar ingin tahu dan berteman dengannya. Tak lebih. Untungnya Jobby mengerti dan selalu mendukung apa yang ku mau. Dia memang seorang teman yang baik, mungkin lebih pantas bila aku memanggilnya sahabat.

***

Semburat sinar matahari pagi menyapaku. Hari Senin telah tiba, hari yang memiliki waktu paling lama daripada hari-hari sesudahnya. Kegiatan di SMA dimana aku menimba ilmu itu dimulai dengan tradisi mingguan yang membosankan. Pelajaran pertama hari ini merupakan salah satu hal yang membuatku semakin membenci hari Senin, selain harus bangun lebih awal untuk upacara bendera. Mendengar namanya saja sudah membuatku pusing. Matematika. Kutukan dari Tuhan macam apa ini? Dan kini, aku harus menghadapainya.

Dua jam pelajaran terlewati dengan penuh perjuangan, masih tersisa dua jam lagi, seandainya aku ultraman, mungkin lampu merah di dadaku sudah menyala berkedap-kedip, tanda tenagaku sudah mulai habis. Aku heran, kenapa mereka masih semangat saja? Terutama Reilna, entah apa yang ia makan setiap harinya, ia begitu semangat memecahkan segala macam masalah-masalah matematika yang dilontarkan oleh Ibu Guru. Saat semua siswa sedang fokus pada suatu soal, aku memanfaatkan situasi dengan maksimal, aku langsung pindah ke bangku kosong yang semeja dengan Reilna tanpa suara, dan ternyata Reilna menyadari itu.

“Maksudmu apa?” ucapnya dengan suara pelan namun sedikit menusuk.

“Heh? Oh, ini, aku… mau… pindah aja kesini, gak apa-apa kan?” jawabku. Aku tiba-tiba gugup, ucapannya tak terduga sama sekali, aku kira dia hanya akan diam.

“Asal jangan berisik.” balasnya dengan tatapan mata tetap fokus ke soal yang sedang ia kerjakan.

Perasaanku lega sekali, dadaku serasa lapang, ini untuk pertama kalinya aku berbicara dengannya, mungkin ini adalah awal buruk tetapi aku percaya bahwa hal yang baik akan datang padaku suatu saat. Wajahnya tampak santai walau ia sedang mengerjakan hal yang bagiku hampir mustahil, dahinya sedikit berkeringat, aku tak heran karena memang hari ini lebih panas dari biasanya. Kulihat tangan kirinya yang cekatan mengerjakan soal matematika itu, sementara tangan kanannya sedang iseng memutar-mutarkan pensil ke sela jemarinya. Tunggu. Tangan kiri. Dia menulis dengan tangan kiri?

Whaaaattt???!!!! Tangan kiri?!” ujarku sambil menoleh ke arah wajahnya.

Dia sama sekali tidak berkata-kata. Ku lihat raut wajahnya yang datar dan terkesan tidak mau berteman denganku. Mungkin aku terlalu berlebihan pada percakapan pertama ini, atau yang dikatakan Jobby waktu itu adalah benar.

Sejauh ini aku simpulkan bahwa dia adalah gadis pendiam nan rajin yang susah bergaul. Oh tidak. Aku terlalu cepat mengambil asumsi, terbilang masih banyak hal yang harus aku gali.

Tak kusangka pelajaran paling membingungkan di abad ke-20 itupun usai. Semua siswa terlihat begitu bahagia dan aku menjadi yang paling bahagia. Aku tutup buku-buku terkutuk itu dengan cepat. Aku bingung, kenapa Reilna masih saja berurusan dengan soal matematika itu. 5 menit berselang, baru ia selesai dan membereskan buku-buku matematikanya. Aku sengaja hanya diam di bangku itu menunggu Reilna keluar terlebih dahulu dari kelas, namun ia juga hanya duduk diam di bangkunya dan tiba-tiba ia membaca buku pelajaran yang akan dipelajari sesudah jam istirahat ini. Aku sedikit terkejut dengan tingkahnya yang rajin itu. Di kelas hanya ada aku dan Reilna, siswa-siswa lain sedang sibuk ke kantin. Aku tidak akan menyianyiakan kesempatan ini, dengan modal SKSD (sok kenal sok dekat), ku coba memulai percakapan kembali.

“Eh, kamu rajin banget sih? Dari mtk tadi sampe sekarang kamu baca buku sejarah.”

“Banyak tanya,” jawabnya sambil berhenti membaca. Ia kemudian menutup buku sejarahnya seakan dia ingin fokus berbicara padaku.

Lho, kenapa bukunya kamu tutup?”

“Bukan urusanmu!” jawabnya sambil bangkit dari kursi dan segera meninggalkanku. Dugaanku salah, rupanya ia ingin enyah dari ku. Tanpa kusadari aku membuat kesalahan lagi. Tidak seharusnya aku terlalu banyak bicara dengan orang yang pendiam dan tak peduli seperti dia untuk pertama kalinya. Aku jadi ragu untuk bisa berteman dengannya. Tak kusangka dia akan seaneh itu. Mungkin aku harus menjauhinya seperti yang semua orang lakukan padanya di sekolah ini. 
***
Whops! Maaf nge-postnya dipisah, soalnya menurut gue terlalu panjang buat dibaca satu page langsung, jadi sambungannya ada di post berikutnya ya sob atau bisa langsung klik ini buat ke part II.