Saturday, March 26, 2016

Cerpen : Seorang Gadis yang Terurai Rambutnya (Part I)


Assalamualaikum! Hell-o people! Saudara sebangsa dan setanah air yang gue banggakan! *asik*
Seperti yang udah gue bilang di post sebelumnya, bahwa gue akan nge-post cerpen gue, bisa dibilang ini salah satu cerpen terbaik yang pernah gue tulis, dan ini juga jadi cerpen satu-satunya yang pernah gue bikin. HAHAHA. Jangan lupa siapin tissue ya buat jaga-jaga :(
Okay fellas, just check this out! 

Seorang Gadis yang Terurai Rambutnya


Bel 5 kali berdering pertanda pelajaran hari Sabtu di sekolah sudah usai, semua siswa kelas XI MIA 4 menarik nafas lega, pelajaran Pak Yatno memang membutuhkan konsentrasi yang tinggi, satu kata terlewat saja bisa dipastikan tidak akan lulus ulangan harian, yang lebih sadis, tidak ada kata remedial di kamus beliau, “Tidak ada remedial, jika kalian memang niat untuk lulus, maka berjuanglah habis-habisan pada kesempatan pertama kalian!”. Kata-kata yang beliau ucapkan di akhir pelajaran tadi sangat membekas di pikiranku, seakan-akan memaksaku untuk segera belajar tanpa henti hingga otakku panas, kemudian berasap, dan meledak. Niat untuk belajar dengan giat kadang muncul, tapi niat jika tidak dilakukan ya hanya niat, tubuh mudaku kadang terlalu lemah untuk melaksanakannya.

Teman-teman lain sudah pulang, tinggal tersisa 3 orang, Aku, Joby, dan seorang gadis yang terurai rambutnya. “Job, cepetan piketnya, aku udah lapar nih!” kataku sambil berjalan mondar-mandir tak karuan. Sekolahku memang mewajibkan siswanya yang piket besok untuk piket pada hari itu juga setelah pelajaran usai. “Santai, bro! Kamu tega biarin cewe piket sendirian?” sahut Joby. Seketika pikiranku tertuju ke gadis pendiam yang bahkan sebelumnya tak kusadari kehadirannya di kelasku. Ku lihat dirinya sedang membersihkan lantai kelas yang kotor dengan sapu. Jemari lentiknya menggenggam gagang sapu itu dengan pasti, pertanda ia anak yang rajin.

***

Jam, menit, dan detik berlalu, sabtu sore ini terasa hambar, tak ada yang spesial. Ayah Ibuku sedang menghadiri acara bulanan di kantor tempat Ayahku bekerja. Adikku sedang sibuk menggambar karakter favoritnya di serial kartun yang tak pernah absen ia tonton. Sedang aku terbaring lesu, badanku terasa lumpuh, namun pikiranku tak pernah berhenti berjalan menjelajahi sederet peristiwa yang terjadi di sekolah tadi, mulai dari aku harus mendapat surat panggilan orangtua karena terlambat ke sekolah, celana olahragaku yang robek secara misterius, pelajaran Pak Yatno yang berhasil membuat otakku mencapai titik didihnya, hingga uraian rambut gadis yang indah itu. Iya, gadis itu. Gadis yang menjajah pikiranku saat ini. Ku tahu hanya namanya, Reilna. Aku bahkan tak mengetahui nama lengkapnya. Reilna Adriana, Reilna Gevania, Reilna Putri, Reilna Garcia, Reilna Rynia, Reilna blablabla, ah sudahlah. Hal ini justru membuat rasa penasaranku meluap. Rasanya aku pernah bertemu dengan Reilna sebelumnya, tapi entah mengapa saat di sekolah tadi ia begitu berbeda. Tumbuh secercah penyeselan kecil di hati kecilku, "Kenapa tadi aku tidak menyapa Reilna?". Jikalau saja tadi aku menyapanya, mungkin sekarang aku sedang menikmati sabtu sore ini dengannya di restoran ala Prancis di tepi pantai yang indah sambil mendengarkan alunan merdu musik klasik yang romantis. Oke, sepertinya aku berkhayal terlalu jauh.


 “Ting-tong!” ponselku berbunyi. “Pasti SMS dari Jobby!”. Dia mengajakku untuk hadir di markas secepatnya.



Aku segera bersiap untuk pergi ke markas. Aku mengendarai sepeda legendarisku yang pernah berjuang bersamaku ketika di sekolah menengah pertama dulu. Sesampainya di rumah Jobby, aku disambutnya dengan kata-kata yang biasa dia ucapkan padaku.

“Lama amat sih!” ucap Jobby

sorry, men! Tadi ada orang lagi hajatan, kursinya makan jalan jadinya macet deh!”  jawabku dengan lancar.

“Ah, alesan! Ya udah cepet masuk, aku pengen ngasih tau hal penting”  ujarnya sambil mendorongku ke dalam rumahnya.

Aku pun memasuki rumah Jobby dan kami segera ke markas. Tempat dimana Jobby mengistirahatkan tubuh jenakanya, tempat dimana aku melarikan diri ketika orangtuaku sedang lupa bahwa aku ini adalah anak mereka, tempat dimana kami saling menceritakan masalah dan mencari jalan keluarnya bersama-sama.

“Deino, sudah saatnya aku ngasih tau kamu hal penting yang udah aku pikirin  sejak kamu SMS aku tadi” kata Jobby dengan muka penuh semangat.

“Apa?” tanyaku dengan datar.

“Ini bro, ... tapi…” jawabnya dengan muka setengah semangat.

“Tapi apa?” tanyaku dengan lebih datar.

“Aduh, aku lupa” jawabnya dengan muka yang kehilangan semangat.

“Kodok! Pake lupa lagi” ujarku sambil menghantamnya dengan bantal. Seketika wajahnya semangat kembali, ia teringat kembali dengan hal penting yang akan dia beri tahu, matanya berkaca-kaca, seperti baru saja bertemu kembali dengan pacarnya yang sudah 3 tahun tidak bertemu. Padahal ia tidak memiliki pacar dan tak pernah pacaran.

“Job, ada yang jauh lebih penting daripada yang kamu pikirkan tadi!” tiba tiba aku mengganti topik pembicaraan.

 “Reilna…” kataku dengan wajah serius.

“Oh, cewek pendiam itu? kamu naksir ya?”

C’mon bro, enggaklah!” jawabku dengan yakin.

“Kenapa Reilna? Kata orang-orang dia tuh cewek yang aneh, everyone knows that she’s a loner, she’s also a freak  introvert. Jadi kamu yakin, no ?”

Aku ceritakan apa saja yang terjadi padaku setelah aku menyadari kehadiran Reilna. Ku utarakan keinginanku untuk lebih mengetahui tentang Reilna. Aku tak peduli dengan opini orang yang buruk tentangnya. Memang, aku hanya sekedar ingin tahu dan berteman dengannya. Tak lebih. Untungnya Jobby mengerti dan selalu mendukung apa yang ku mau. Dia memang seorang teman yang baik, mungkin lebih pantas bila aku memanggilnya sahabat.

***

Semburat sinar matahari pagi menyapaku. Hari Senin telah tiba, hari yang memiliki waktu paling lama daripada hari-hari sesudahnya. Kegiatan di SMA dimana aku menimba ilmu itu dimulai dengan tradisi mingguan yang membosankan. Pelajaran pertama hari ini merupakan salah satu hal yang membuatku semakin membenci hari Senin, selain harus bangun lebih awal untuk upacara bendera. Mendengar namanya saja sudah membuatku pusing. Matematika. Kutukan dari Tuhan macam apa ini? Dan kini, aku harus menghadapainya.

Dua jam pelajaran terlewati dengan penuh perjuangan, masih tersisa dua jam lagi, seandainya aku ultraman, mungkin lampu merah di dadaku sudah menyala berkedap-kedip, tanda tenagaku sudah mulai habis. Aku heran, kenapa mereka masih semangat saja? Terutama Reilna, entah apa yang ia makan setiap harinya, ia begitu semangat memecahkan segala macam masalah-masalah matematika yang dilontarkan oleh Ibu Guru. Saat semua siswa sedang fokus pada suatu soal, aku memanfaatkan situasi dengan maksimal, aku langsung pindah ke bangku kosong yang semeja dengan Reilna tanpa suara, dan ternyata Reilna menyadari itu.

“Maksudmu apa?” ucapnya dengan suara pelan namun sedikit menusuk.

“Heh? Oh, ini, aku… mau… pindah aja kesini, gak apa-apa kan?” jawabku. Aku tiba-tiba gugup, ucapannya tak terduga sama sekali, aku kira dia hanya akan diam.

“Asal jangan berisik.” balasnya dengan tatapan mata tetap fokus ke soal yang sedang ia kerjakan.

Perasaanku lega sekali, dadaku serasa lapang, ini untuk pertama kalinya aku berbicara dengannya, mungkin ini adalah awal buruk tetapi aku percaya bahwa hal yang baik akan datang padaku suatu saat. Wajahnya tampak santai walau ia sedang mengerjakan hal yang bagiku hampir mustahil, dahinya sedikit berkeringat, aku tak heran karena memang hari ini lebih panas dari biasanya. Kulihat tangan kirinya yang cekatan mengerjakan soal matematika itu, sementara tangan kanannya sedang iseng memutar-mutarkan pensil ke sela jemarinya. Tunggu. Tangan kiri. Dia menulis dengan tangan kiri?

Whaaaattt???!!!! Tangan kiri?!” ujarku sambil menoleh ke arah wajahnya.

Dia sama sekali tidak berkata-kata. Ku lihat raut wajahnya yang datar dan terkesan tidak mau berteman denganku. Mungkin aku terlalu berlebihan pada percakapan pertama ini, atau yang dikatakan Jobby waktu itu adalah benar.

Sejauh ini aku simpulkan bahwa dia adalah gadis pendiam nan rajin yang susah bergaul. Oh tidak. Aku terlalu cepat mengambil asumsi, terbilang masih banyak hal yang harus aku gali.

Tak kusangka pelajaran paling membingungkan di abad ke-20 itupun usai. Semua siswa terlihat begitu bahagia dan aku menjadi yang paling bahagia. Aku tutup buku-buku terkutuk itu dengan cepat. Aku bingung, kenapa Reilna masih saja berurusan dengan soal matematika itu. 5 menit berselang, baru ia selesai dan membereskan buku-buku matematikanya. Aku sengaja hanya diam di bangku itu menunggu Reilna keluar terlebih dahulu dari kelas, namun ia juga hanya duduk diam di bangkunya dan tiba-tiba ia membaca buku pelajaran yang akan dipelajari sesudah jam istirahat ini. Aku sedikit terkejut dengan tingkahnya yang rajin itu. Di kelas hanya ada aku dan Reilna, siswa-siswa lain sedang sibuk ke kantin. Aku tidak akan menyianyiakan kesempatan ini, dengan modal SKSD (sok kenal sok dekat), ku coba memulai percakapan kembali.

“Eh, kamu rajin banget sih? Dari mtk tadi sampe sekarang kamu baca buku sejarah.”

“Banyak tanya,” jawabnya sambil berhenti membaca. Ia kemudian menutup buku sejarahnya seakan dia ingin fokus berbicara padaku.

Lho, kenapa bukunya kamu tutup?”

“Bukan urusanmu!” jawabnya sambil bangkit dari kursi dan segera meninggalkanku. Dugaanku salah, rupanya ia ingin enyah dari ku. Tanpa kusadari aku membuat kesalahan lagi. Tidak seharusnya aku terlalu banyak bicara dengan orang yang pendiam dan tak peduli seperti dia untuk pertama kalinya. Aku jadi ragu untuk bisa berteman dengannya. Tak kusangka dia akan seaneh itu. Mungkin aku harus menjauhinya seperti yang semua orang lakukan padanya di sekolah ini. 
***
Whops! Maaf nge-postnya dipisah, soalnya menurut gue terlalu panjang buat dibaca satu page langsung, jadi sambungannya ada di post berikutnya ya sob atau bisa langsung klik ini buat ke part II.

1 comment:

  1. Boleh jadi EBI Nazi bentar ngga?

    Alur ceritanya bagus jalannya, mulus dan ga terlalu ngebut. Enjoyable sih... cuma ...

    Err, anu, bentuk baku "nafas" itu "napas", terus setiap akhir dialog kecuali pakai tanda petik atau seru, kasih titik, ok. Sama kasih titik tiap akhir kalimat apapun bentuknya, kecuali kalau udah dikasih tanda seru atau tanya atau titik dua sebelumnya.

    Sekian, aku mau baca part 2-nya habis ini.

    -Aura.

    ReplyDelete