Assalamualaikum! Hell-o people! Saudara sebangsa dan setanah air yang gue banggakan! *asik*
Seperti yang udah gue bilang di post sebelumnya, bahwa gue akan nge-post cerpen gue, bisa dibilang ini salah satu cerpen terbaik yang pernah gue tulis, dan ini juga jadi cerpen satu-satunya yang pernah gue bikin. HAHAHA. Jangan lupa siapin tissue ya buat jaga-jaga :(
Okay fellas, just check this out!
Seorang Gadis yang
Terurai Rambutnya
Bel 5 kali berdering
pertanda pelajaran hari Sabtu di sekolah sudah usai, semua siswa kelas XI MIA 4
menarik nafas lega, pelajaran Pak Yatno memang membutuhkan konsentrasi yang
tinggi, satu kata terlewat saja bisa dipastikan tidak akan lulus ulangan
harian, yang lebih sadis, tidak ada kata remedial di kamus beliau, “Tidak ada
remedial, jika kalian memang niat untuk lulus, maka berjuanglah habis-habisan
pada kesempatan pertama kalian!”. Kata-kata yang beliau ucapkan di akhir
pelajaran tadi sangat membekas di pikiranku, seakan-akan memaksaku untuk segera
belajar tanpa henti hingga otakku panas, kemudian berasap, dan meledak. Niat
untuk belajar dengan giat kadang muncul, tapi niat jika tidak dilakukan ya
hanya niat, tubuh mudaku kadang terlalu lemah untuk melaksanakannya.
Teman-teman lain sudah pulang, tinggal tersisa 3
orang, Aku, Joby, dan seorang gadis yang terurai rambutnya. “Job, cepetan piketnya, aku udah lapar nih!” kataku sambil berjalan
mondar-mandir tak karuan. Sekolahku memang mewajibkan siswanya yang piket besok
untuk piket pada hari itu juga setelah pelajaran usai. “Santai, bro! Kamu tega biarin cewe piket
sendirian?” sahut Joby. Seketika pikiranku tertuju ke gadis pendiam yang bahkan
sebelumnya tak kusadari kehadirannya di kelasku. Ku lihat dirinya sedang
membersihkan lantai kelas yang kotor dengan sapu. Jemari lentiknya menggenggam
gagang sapu itu dengan pasti, pertanda ia anak yang rajin.
***
Jam, menit, dan detik
berlalu, sabtu sore ini terasa hambar, tak ada yang spesial. Ayah Ibuku sedang
menghadiri acara bulanan di kantor tempat Ayahku bekerja. Adikku sedang sibuk
menggambar karakter favoritnya di serial kartun yang tak pernah absen ia
tonton. Sedang aku terbaring lesu, badanku terasa lumpuh, namun pikiranku tak
pernah berhenti berjalan menjelajahi sederet peristiwa yang terjadi di sekolah
tadi, mulai dari aku harus mendapat surat panggilan orangtua karena terlambat
ke sekolah, celana olahragaku yang robek secara misterius, pelajaran Pak Yatno
yang berhasil membuat otakku mencapai titik didihnya, hingga uraian rambut
gadis yang indah itu. Iya, gadis itu. Gadis yang menjajah pikiranku saat ini.
Ku tahu hanya namanya, Reilna. Aku bahkan tak mengetahui nama lengkapnya.
Reilna Adriana, Reilna Gevania, Reilna Putri, Reilna Garcia, Reilna Rynia, Reilna
blablabla, ah sudahlah. Hal ini
justru membuat rasa penasaranku meluap. Rasanya aku pernah bertemu dengan
Reilna sebelumnya, tapi entah mengapa saat di sekolah tadi ia begitu berbeda. Tumbuh
secercah penyeselan kecil di hati kecilku, "Kenapa tadi aku tidak menyapa
Reilna?". Jikalau saja tadi aku menyapanya, mungkin sekarang aku sedang
menikmati sabtu sore ini dengannya di restoran ala Prancis di tepi pantai yang
indah sambil mendengarkan alunan merdu musik klasik yang romantis. Oke,
sepertinya aku berkhayal terlalu jauh.
“Ting-tong!” ponselku berbunyi. “Pasti SMS dari Jobby!”. Dia mengajakku untuk hadir di markas secepatnya.
Aku segera bersiap
untuk pergi ke markas. Aku mengendarai sepeda legendarisku yang pernah berjuang
bersamaku ketika di sekolah menengah pertama dulu. Sesampainya di rumah Jobby,
aku disambutnya dengan kata-kata yang biasa dia ucapkan padaku.
“Lama amat sih!” ucap Jobby
“sorry, men! Tadi ada orang lagi hajatan, kursinya makan jalan
jadinya macet deh!” jawabku dengan lancar.
“Ah, alesan! Ya udah cepet masuk, aku pengen ngasih tau hal penting” ujarnya sambil mendorongku ke dalam rumahnya.
Aku pun memasuki rumah
Jobby dan kami segera ke markas. Tempat dimana Jobby mengistirahatkan tubuh
jenakanya, tempat dimana aku melarikan diri ketika orangtuaku sedang lupa bahwa
aku ini adalah anak mereka, tempat dimana kami saling menceritakan masalah dan
mencari jalan keluarnya bersama-sama.
“Deino, sudah saatnya
aku ngasih tau kamu hal penting yang udah aku pikirin sejak kamu SMS aku tadi” kata Jobby dengan muka
penuh semangat.
“Apa?” tanyaku dengan
datar.
“Ini bro, ... tapi…” jawabnya dengan muka
setengah semangat.
“Tapi apa?” tanyaku
dengan lebih datar.
“Aduh, aku lupa”
jawabnya dengan muka yang kehilangan semangat.
“Kodok! Pake lupa lagi” ujarku sambil
menghantamnya dengan bantal. Seketika wajahnya semangat kembali, ia teringat
kembali dengan hal penting yang akan dia beri tahu, matanya berkaca-kaca,
seperti baru saja bertemu kembali dengan pacarnya yang sudah 3 tahun tidak
bertemu. Padahal ia tidak memiliki pacar dan tak pernah pacaran.
“Job, ada yang jauh
lebih penting daripada yang kamu pikirkan tadi!” tiba tiba aku mengganti topik
pembicaraan.
“Reilna…” kataku dengan wajah serius.
“Oh, cewek pendiam itu?
kamu naksir ya?”
“C’mon bro, enggaklah!”
jawabku dengan yakin.
“Kenapa Reilna? Kata
orang-orang dia tuh cewek yang aneh, everyone knows that she’s a loner, she’s also a freak introvert. Jadi kamu yakin, no ?”
Aku ceritakan apa saja yang terjadi padaku setelah
aku menyadari kehadiran Reilna. Ku utarakan keinginanku untuk lebih mengetahui
tentang Reilna. Aku tak peduli dengan opini orang yang buruk tentangnya.
Memang, aku hanya sekedar ingin tahu dan berteman dengannya. Tak lebih.
Untungnya Jobby mengerti dan selalu mendukung apa yang ku mau. Dia memang
seorang teman yang baik, mungkin lebih pantas bila aku memanggilnya sahabat.
***
Semburat sinar matahari
pagi menyapaku. Hari Senin telah tiba, hari yang memiliki waktu paling lama
daripada hari-hari sesudahnya. Kegiatan di SMA dimana aku menimba ilmu itu
dimulai dengan tradisi mingguan yang membosankan. Pelajaran pertama hari ini
merupakan salah satu hal yang membuatku semakin membenci hari Senin, selain
harus bangun lebih awal untuk upacara bendera. Mendengar namanya saja sudah
membuatku pusing. Matematika. Kutukan dari Tuhan macam apa ini? Dan kini, aku
harus menghadapainya.
Dua jam pelajaran
terlewati dengan penuh perjuangan, masih tersisa dua jam lagi, seandainya aku ultraman, mungkin lampu merah di dadaku
sudah menyala berkedap-kedip, tanda tenagaku sudah mulai habis. Aku heran,
kenapa mereka masih semangat saja? Terutama Reilna, entah apa yang ia makan
setiap harinya, ia begitu semangat memecahkan segala macam masalah-masalah
matematika yang dilontarkan oleh Ibu Guru. Saat semua siswa sedang fokus pada
suatu soal, aku memanfaatkan situasi dengan maksimal, aku langsung pindah ke
bangku kosong yang semeja dengan Reilna tanpa suara, dan ternyata Reilna
menyadari itu.
“Maksudmu apa?” ucapnya
dengan suara pelan namun sedikit menusuk.
“Heh? Oh, ini, aku…
mau… pindah aja kesini, gak apa-apa kan?” jawabku. Aku tiba-tiba gugup, ucapannya tak terduga sama
sekali, aku kira dia hanya akan diam.
“Asal jangan berisik.”
balasnya dengan tatapan mata tetap fokus ke soal yang sedang ia kerjakan.
Perasaanku lega sekali,
dadaku serasa lapang, ini untuk pertama kalinya aku berbicara dengannya,
mungkin ini adalah awal buruk tetapi aku percaya bahwa hal yang baik akan
datang padaku suatu saat. Wajahnya tampak santai walau ia sedang mengerjakan
hal yang bagiku hampir mustahil, dahinya sedikit berkeringat, aku tak heran
karena memang hari ini lebih panas dari biasanya. Kulihat tangan kirinya yang
cekatan mengerjakan soal matematika itu, sementara tangan kanannya sedang iseng
memutar-mutarkan pensil ke sela jemarinya. Tunggu. Tangan kiri. Dia menulis
dengan tangan kiri?
“Whaaaattt???!!!! Tangan kiri?!” ujarku sambil menoleh ke arah
wajahnya.
Dia sama sekali tidak
berkata-kata. Ku lihat raut wajahnya yang datar dan terkesan tidak mau berteman
denganku. Mungkin aku terlalu berlebihan pada percakapan pertama ini, atau yang
dikatakan Jobby waktu itu adalah benar.
Sejauh ini aku
simpulkan bahwa dia adalah gadis pendiam nan rajin yang susah bergaul. Oh
tidak. Aku terlalu cepat mengambil asumsi, terbilang masih banyak hal yang
harus aku gali.
Tak kusangka pelajaran
paling membingungkan di abad ke-20 itupun usai. Semua siswa terlihat begitu
bahagia dan aku menjadi yang paling bahagia. Aku tutup buku-buku terkutuk itu
dengan cepat. Aku bingung, kenapa Reilna masih saja berurusan dengan soal
matematika itu. 5 menit berselang, baru ia selesai dan membereskan buku-buku
matematikanya. Aku sengaja hanya diam di bangku itu menunggu Reilna keluar
terlebih dahulu dari kelas, namun ia juga hanya duduk diam di bangkunya dan
tiba-tiba ia membaca buku pelajaran yang akan dipelajari sesudah jam istirahat
ini. Aku sedikit terkejut dengan tingkahnya yang rajin itu. Di kelas hanya ada
aku dan Reilna, siswa-siswa lain sedang sibuk ke kantin. Aku tidak akan
menyianyiakan kesempatan ini, dengan modal SKSD
(sok kenal sok dekat), ku coba memulai percakapan kembali.
“Eh, kamu rajin banget sih? Dari mtk tadi sampe sekarang
kamu baca buku sejarah.”
“Banyak tanya,”
jawabnya sambil berhenti membaca. Ia kemudian menutup buku sejarahnya seakan
dia ingin fokus berbicara padaku.
“Lho, kenapa bukunya kamu tutup?”
“Bukan urusanmu!” jawabnya sambil bangkit dari kursi
dan segera meninggalkanku. Dugaanku salah, rupanya ia ingin enyah dari ku.
Tanpa kusadari aku membuat kesalahan lagi. Tidak seharusnya aku terlalu banyak
bicara dengan orang yang pendiam dan tak peduli seperti dia untuk pertama
kalinya. Aku jadi ragu untuk bisa berteman dengannya. Tak kusangka dia akan
seaneh itu. Mungkin aku harus menjauhinya seperti yang semua orang lakukan
padanya di sekolah ini.
***
Whops! Maaf nge-postnya dipisah, soalnya menurut gue terlalu panjang buat dibaca satu page langsung, jadi sambungannya ada di post berikutnya ya sob atau bisa langsung klik ini buat ke part II.
Boleh jadi EBI Nazi bentar ngga?
ReplyDeleteAlur ceritanya bagus jalannya, mulus dan ga terlalu ngebut. Enjoyable sih... cuma ...
Err, anu, bentuk baku "nafas" itu "napas", terus setiap akhir dialog kecuali pakai tanda petik atau seru, kasih titik, ok. Sama kasih titik tiap akhir kalimat apapun bentuknya, kecuali kalau udah dikasih tanda seru atau tanya atau titik dua sebelumnya.
Sekian, aku mau baca part 2-nya habis ini.
-Aura.